Sa’ad bin Abi Waqqash

Penyusun: Ustadz Muhammad Hadi

Para sahabat Nabi ` memiliki kebaikan hati, kedalaman ilmu, kelurusan perilaku,keindahan perangai, dan jauh dari sikap pembebanan diri. Karenanya, Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan sekaligus menegakkan agama-Nya. Menjadikan para sahabat sebagai suri teladan adalah pokok mendasar bagi kaum muslimin. Demikian ini dititahkan dalam Islam sebagai ajaran mulia. Selayaknya kita bersemangat mengenal pribadi mereka. Satu di antaranya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

Mengenal Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu

Tubuh pendek, gemuk, rambut keriting, hidung pesek, kulit sawo matang, jemari tebal dan kasar, serta badannya dipenuhi bulu; itulah sosok Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi n nan mulia. Beliau bernama Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin ‘Abdi Manaf al-Qurasyi az-Zuhri al-Makki. Kunyah beliau adalah Abu Ishaq. Nasab beliau radhiyallahu ‘anhu bertemu dengan nasab Rasulullah n pada ‘Abdu Manaf bin Zuhrah. Beliau radhiyallahu ‘anhu lahir di Makkah dan berasal dari suku Quraisy. Memiliki keturunan sebanyak 35 anak, di antaranya Ibrahim, ‘Amir, ‘Umar, Muhammad, Mush’ab, dan ‘Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk dalam as-Sabiqunal Awwalun (para sahabat Nabi yang pertama kali masuk Islam). Beliau pula termasuk salah satu dari Ahlusy Syura (enam sahabat Nabi yang dipilih ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu untuk menentukan pengganti ‘Umar sebagai khalifah). Bahkan Sa’ad radhiyallahu ‘anhu tergolong dalam al-’Asyarah al-Mubasysyarun bil Jannah (sepuluh sahabat Nabi yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni surga).

Kisah Keislaman Beliau radhiyallahu ‘anhu

Beliau memeluk Islam melalui ajakan Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Saat itu usianya masih 17 tahun. Sebelum masuk Islam, Sa’ad radhiyallahu ‘anhu pernah bermimpi. Beliau berada dalam kegelapan, tidak dapat melihat sesuatu apapun. Tiba-tiba bulan menyinarinya. Beliaupun mengikuti sinar bulan tersebut. Tampak olehnya beberapa orang yang telah mendahuluinya berjalan ke arah bulan. Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berupaya melihat sekumpulan orang itu. Ternyata mereka adalah Zaid bin Haritsah, ‘Ali bin Abi Thalib, dan Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhum. Memang benar, mereka lebih dahulu masuk Islam. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu adalah anak yang sangat berbakti pada ibunya, Hamnah bintu Sufyan. Ketika masuk Islam, sang ibu marah dan mengancam, “Wahai Sa’ad, agama apa yang engkau ikuti ini? Sungguh, engkau harus meninggalkan agamamu ini, atau aku akan mogok makan dan minum sampai aku mati, sehingga engkau akan dicela karenanya.” “Wahai ibu, janganlah engkau lakukan itu. Sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku,” pinta Sa’ad. Benarlah, ibunya tidak makan dan minum seharian hingga kepayahan. Melihat hal itu, Sa’ad mengatakan, “Demi Allah, sekiranya engkau memiliki seribu nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu, niscaya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini.” Mengetahui tekad putranya, ibu Sa’ad mengurungkan niatnya lalu mau kembali makan dan minum. Dari peristiwa inilah Allah menurunkan ayat-Nya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)

Kedekatannya dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berasal dari kabilah Bani Zuhrah. Demikian pula ibu Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam berasal dari kabilah tersebut. Sehingga Sa’ad radhiyallahu ‘anhu dikategorikan sebagai Khalun Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam (paman Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dari jalur ibu). Suatu hari di Makkah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam menjenguk Sa’ad radhiyallahu ‘anhu yang sedang sakit. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengusap wajah, dada, dan perut Sa’ad radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam  mendoakannya, “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad.” Kebaikan Nabi begitu membekas pada diri Sa’ad. Dinginnya telapak tangan Nabi senantiasa dirasakan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Ketika perang Uhud meletus, Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bersama beberapa sahabat tetap bertahan menjaga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Sa’ad radhiyallahu ‘anhu sendiri adalah seorang prajurit yang mahir dalam memanah. Tak seorang pun yang maju hendak membahayakan diri Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, kecuali terkena sasaran anak panahnya. Sambil menyiapkan anak panah dan mengamati hasil bidikan Sa’ad, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai Sa’ad, panahlah. Ayah dan ibuku sebagai tebusannya.”Demikian pula Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan Sa’ad radhiyallahu ‘anhu pada peristiwa itu, “Ya Allah, kabulkanlah permohonan Sa’ad apabila berdoa kepada-Mu.” Sehingga Sa’ad radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai orang yang dikabulkan (mustajab) doanya.

Pada suatu malam, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sulit untuk tidur. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seandainya ada orang saleh dari sahabatku yang sudi menjagaku malam ini.” Tiba-tiba terdengar suara dentingan senjata. “Siapa ini?,” tanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Lelaki itu menjawab, “Sa’ad bin Abi Waqqash. Saya wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Saya datang kemari guna menjagamu.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallampun mendoakan kebaikan untuknya, kemudian beliau tidur dengan lelap hingga terdengar suara dengkurannya.

Perjuangannya di Jalan Allah

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang begitu lihai dalam memacu kuda. Karenanya, beliau dijuluki sebagai Farisul Islam (prajurit Islam yang ahli berkuda). Di awal-awal Islam, para sahabat beribadah di lereng-lereng bukit karena khawatir terhadap gangguan kaum musyrikin. Suatu hari, sekelompok kaum musyrikin mengetahui keberadaan mereka di salah satu bukit di Makkah. Kaum musyrikin terus mengejek dan mencela agama Islam hingga mengganggu para sahabat. Sa’ad radhiyallahu ‘anhu marah dan memukul salah seorang dari mereka dengan kulit unta yang sudah kering. Orang tersebut terluka dan berdarah. Dengan peristiwa ini, Sa’ad radhiyallahu ‘anhu menjadi sahabat Nabi yang pertama kali menumpahkan darah di jalan Allah.

Ketika perang Badr meletus, beliau radhiyallahu ‘anhu bersama para sahabat lainnya berusaha sekuat tenaga membela Nabi Muhammad n. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu menjadi sahabat Nabi yang pertama kali melepaskan anak panah di jalan Allah. Bahkan beliau radhiyallahu ‘anhu mendapat dua tawanan pada peristiwa itu. Demikian pula pada masa pemerintahan Khulafa’ur Rasyidin, beliau turut andil dalam memperjuangkan agama Islam. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang membangun kota Kufah, Irak. Demikian pula ketika menjadi panglima perang, beliau berhasil menaklukkan sejumlah wilayah penting kerajaan Persia di Irak, seperti kota Qadisiyyah, Madain, dan Jalula’.

Nasihat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu

Suatu hari, ‘Abdullah bin Fairuz ad-Dailami berjumpa dengan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Maka ‘Abdullah bin Fairuz bertanya, “Sesungguhnya aku memiliki keraguan pada sebagian permasalahan takdir. Maka jelaskanlah hal itu kepadaku, mudah-mudahan Allah menjadikan penjelasanmu bisa melapangkan diriku.” Sa’ad radhiyallahu ‘anhu dengan tenang memberikan pengarahan, “Wahai anak saudaraku (sesama muslim), sesungguhnya kalau sekiranya Allah mengadzab semua penghuni langit dan bumi, niscaya Dia mengadzab mereka tanpa kedzaliman. Dan kalau sekiranya Dia merahmati mereka, niscaya rahmat Allah lebih baik bagi diri mereka daripada amalan-amalan mereka.” Lalu beliau radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Dan sesungguhnya kalau seandainya seseorang berinfak emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, namun tidak beriman terhadap takdir yang baik atau yang buruk, niscaya infaknya tidak akan diterima oleh Allah.” Kemudian Sa’ad radhiyallahu ‘anhu menyarankannya untuk menemui sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Ternyata penjelasan Ibnu Mas’ud semakna dengan ucapan Sa’ad. Lalu Ibnu Mas’ud menyarankan ‘Abdullah bin Fairuz ad-Dailami untuk menemui sahabat Ibnu Abi Ka’b radhiyallahu ‘anhu. Ternyata penjelasan Ibnu Abi Ka’b juga senada dengan ucapan dua sahabat sebelumnya. Kemudian ‘Abdullah bin Fairuz disarankan untuk menemui sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu. Ternyata pemaparan Zaid bin Tsabit mirip dengan ucapan ketiga sahabat tadi. Karena semua yang terjadi di dunia ini telah ditentukan oleh Allah.

Akhir Kehidupannya di Dunia

Di saat kegelapan fitnah melanda kaum muslimin, beliau berusaha menyelamatkan diri dari fitnah tersebut. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu tinggal di bentengnya di daerah al-’Aqiq, sekitar tujuh mil dari Madinah. Beliau radhiyallahu ‘anhu tetap berada di sana hingga akhir hayatnya. Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai orang yang paling mulia kedudukannya, memiliki akhlak yang mulia, kokoh dalam menjalankan tuntunan Nabi, dan sangat menyayangi rakyatnya. Menjelang ajalnya, beliau radhiyallahu ‘anhu meminta untuk diambilkan sebuah pakaian yang terbuat dari kain wol. Lalu beliau radhiyallahu ‘anhu berpesan, “Kafanilah aku dengan pakaian wolku ini. Sesungguhnya dahulu aku berperang melawan kaum musyrikin pada perang Badr, dengan mengenakan pakaian tersebut. Pakaian itu senantiasa ada pada diriku. Dan selama ini aku menyimpannya untuk hal ini.” Tepat pada tahun 55 H, beliau radhiyallahu ‘anhu pun meninggal dunia pada usia 82 tahun. Dengan kejadian itu, maka beliau radhiyallahu ‘anhu menjadi sahabat yang terakhir meninggal dari kalangan kaum Muhajirin. Lalu jenazah beliau di bawa ke Madinah. Sesampainya di Madinah, kaum muslimin menshalati jenazahnya di Masjid Nabawi. Demikian pula para istri Nabi turut menshalatinya. Kemudian beliau radhiyallahu ‘anhu dimakamkan di pekuburan Baqi’. Umat Islam sangat bersedih dengan kepergiannya. Semoga Allah meridhainya.

Faidah Ilmu Hadits

Al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya menyebutkan riwayat melalui Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu sebanyak lima hadits. Al-Imam Muslim menyebutkan 18 hadits dalam kitab Shahih-nya. Adapun al-Imam Baqi bin Makhlad radhiyallahu ‘anhu dalam kitab Musnad-nya menyebutkan 270 hadits. Bahan Renungan Para pembaca yang mulia, kisah bukanlah perkara yang tiada memiliki ibrah (pelajaran). Pemaparan kisah akan mudah meresap ke dalam hati orang yang membacanya, menanamkan kesan yang demikian mendalam. Memang, keadaan kita sangatlah berbeda dengan mereka. Namun, selayaknya kita mendamba seperti mereka. Sehingga jiwa ini segera tersadar dari kelengahan yang teramat lama. Lantas, mau bergegas menuju ampunan Allah dan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi. Wallahu a’lam bish shawab.

sumber: www.buletin-alilmu.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


CAPTCHA Image
Reload Image