Menyimpang Tanpa Sadar

Setiap muslim tentu memahami bahwa kita hidup di dunia adalah dalam rangka untuk menjalankan tugas yang telah Alloh ta’ala embankan pada kita, yaitu untuk beribadah kepada-Nya semata. Hal ini sebagaimana Alloh ta’ala nyatakan dalam al-Qur’an :

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

“tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (adz-dzariyat:56)

Kemudian Allaoh ta’ala mengutus para nabi dan rosul adalah juga dalam rangka untuk menerangkan kepada umat manusia bagaimana tata cara beribadah yang benar kepada Alloh. Melalui nabi dan rosul itu, Alloh ta’la kemudian menurunkan kitab-kitab, yang juga berisi bimbingan bagaimana manusia bisa melakukan tugas ubudiyyah dengan baik sesuai dengan yang Alloh ridhoi.

Bahkan yang semua yang Alloh ta’ala ciptakan di alam raya ini dan ditetapkannya syariat bagi setiap umat, serta diciptakannya surga dan neraka, semua dalam rangka sebuah tujuan yang sangat besar, yaitu terwujudnya amalan ubudiyyah dari para hamba kepada Robb-Nya.

Oleh karena itu, orang yang dianggap berjalan diatas al-haq (kebenaran) adalah mereka yang mampu menjalankan amalan ibadah kepada Alloh semata sesuai dengan bimbingan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam. Begitu pula orang yang bahagia ketika didunia dan dimasukkan didalam surga ketika matinya, adalah orang-orang yang mampu melakukan penghambaan kepada Alloh semata diatas keridhoan-Nya, yaitu peribadahan yang dijalankan di atas bimbingan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam.

Begitu pula sebaliknya, orang yang di anggap menyimpang dan sesat adalah orang-orang yang tidak mau menjalankan ubudiyyah kepada Alloh ta’ala, atau amalan ibadah yang dilakukannya tidak mendatangkan keridhoan-Nya. Hal ini karena ia beramal tidak di atas bimbingan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam. Ini adalah keadaan orang-orang yang tidak mendapatkan kebahagiaan ketika di dunia dan ketika mati ia di ancam dengan neraka.

Maka menjadi sesuatu yang sangat penting bagi seorang hamba, selama ia hidup didunia, untuk bisa senantiasa menjalankan berbagai peribadatan kepada Alloh ta’ala. Dengan kata lain, untuk bisa selamat di dunia dan akhirat, seorang hamba sangat butuh dengan yang namanya istiqomah.istiqomah di atas ketaatan sangat dibutuhkan oleh setiap manusia sampai akhir hayatnya.

Di dalam shohih muslim disebutkan sebuah hadits tentang seorang shohabat yang bertanya kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam,

يَارَسُوْلَ اللهِ , قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم

 

“Ya Rosululloh katakan padaku tentang islam ini dengan sebuah kalimat yang aku tidak perlu bertanya lagi kepada selain engkau “maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam menjawab, “katakan aku beriman kepada Alloh kemudian istiqomahlah” (HR,Muslim)

Di dalam hadits ini Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam tidak saja menerangkan tentang jalan kebenaran yang harus ditempuh oleh seorang muslim, namun yang tidak kalah penting adalah perintah beiau untuk istiqomah di atas jalan tersebut. Ini adalah perkara yang tidak kalah besar, yang semestinya setiap muslim berupaya untuk mendapatkannya.

Istiqomah adalah amalan yang tidak mudah, ia adalah amalan besar yang memiliki banyak konsekuensi. Yang paling besarnya adalah bagaimana kita bisa mempetahankan agama kita, senantiasa menjalani ibadah hanya untuk Alloh semata, dan menetapi syariat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam dalam menjalankan berbagai ibadah tersebut.

Perintah istiqomah tidak hanya ditujukan untuk kaum muslimin secara umum. Bahkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam diperintahkan untuk beristiqomah. Alloh ta’ala berfirman:

فَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطۡغَوۡاْۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ١١٢

“maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas .sesungguhnya Dia maha melihat apa yang kamu kerjakan.”(Hud:112)

Perintah istiqomah kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam menunjukan betapa pentingnya kedudukan istiqomah. Juga menunjukkan istiqomah bukan perkara yang mudah. Untuk bisa istiqomah dibutuhkan kesungguhan dan kesabaran, karena istiqomah tidak dilakukan untuk waktu yang sebentar, sehari atau dua hari istiqomah kemudian dijamin masuk surga, tidak demikian. Namun istiqomah dilakukan terus menerus hingga ajal menjemput. Inilah beratnya istiqomah hingga tidak semua orang mampu melakukannya.

Terlebih di masa sekarang, ketika fitnah demikian banyak dan tak henti mendatangi kita.masa yang telah demikian jauh dari masa kenabian, yang telah menjadi sunnatulloh bahwa semakin jauh suatu kehidupan dari masa kenabian maka kejelakan dan kerusakan akan semakin banyak. Begitu pula sebaliknya, semakin dekat dengan masa kenabian maka akan semakin banyak kebaikan dan keberkahan padanya.

Beberapa Faktor yang Membuat Istiqomah Semakin Sulit

Semakin Jeleknya Zaman

Al-Imam al-bukhori dan muslim rohimahumalloh meriwayatkan dari az-Zubair bin ‘Ady rohimahulloh, ia berkata: kami dating menemui Anas bin Malik rodiyallohu ‘anhu. Kami mengadukan kepadanya apa yang kami alami atas kesewenang-wenangan al-Hajjaj bin yusuf (seorang penguasa yang kejam) terhadap kami. Anas rodiyallohu ‘anhu berkata:

اصْبرُوا فَانّهُ لَا يَأتِي عَلَيكُم زَمَانٌ اِلاالّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنهُ حَتَّى تَلْقوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُم صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bersabarlah kalian sesungguhnya tidak datang suatu zaman kecuali yang sesudahnya lebih jelek dari yang sebelumnya hingga kalian bertemu dengan Rabb kalian. Aku mendengar perkataan ini dari Nabi kalian (yaitu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam)

Sungguh sebuah kabar yang sangat mengkhawatirkan. Dimasa anas bi malik rodhiyallohu ‘anhu, yang ketika itu sejumlah shohabat masih ada dan masih termasuk tiga masa terbaik sebagaimana dipuji oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam, namun kehidupan yang ada sudah demikian jelek dan fitnah yang ada sangat mengerikan. Maka kita bisa membayangkan bagaimana kehidupan di zaman sesudah beliau. Tentunya kita bisa menyatakan pula bahwa zaman yang kita berada didalamnya, berlipat-lipat lagi tingkat kejelekannya.

Sampai-sampai, untuk menggambarkan betapa rusaknya keadaan manusia di zaman sekarang, muncul istilah “zaman edan” karena memang demikian banyak kerusakan yang ada, yang sangat berat bagi seorang untuk bisa menyelamatkan agamanya,

Berbagai pengkaburan (syubhat) dalam agama, muncul bak air bah, mulai dari yang kecil, yang sangat mudah untuk dibantah, hingga yang sangat samar yang menelan banyak korban.

Begitu pula fitnah syahwat, tak kalah dahsyat. Kemaksiatan di masa sekarang demikian semarak dan luar biasa, dipusat kota maupun di ujung desa, keadaannya tak jauh berbeda.

Kita hidup dalam kepungan fitnah, baik syubhat maupun syahwat, setiap waktu kita didatangi fitnah, bahkan saat kita didalam rumah sekalipun! Dalam situasi seperti ini, mari kita tengok diri kita: masihkah kita berpegang teguh dengan agama kita atau diam-diam tanpa sadar kita telah menyimpang?

Banyaknya Ikhtilaf

Ikhtilaf (perselisihan) yang dimaksud di sini adalah ikhtilaf dalam masalah agama, hal ini sebagaimana telah dikabarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam dalam sebuah hadits yang masyhur dengan sebutan hadits iftiroqul ummah:

اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِيْ الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

“yahudi telah terpecah menjadi 71 kelompok. Nashrani telah terpecah menjadi 72 kelompok. Sedangkan umatku nanti akan terpecah menjadi 73 kelompok, semuanya di neraka kecuali satu saja.”Beliau ditanya: “Siapa yang selamat itu, wahai Rosululloh?” (HR: Imam at-tirmizi dari Abdulloh bin ‘amr rodhiyallohu ‘anhu)

Apa yang telah dikabarkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam itu kini telah kita saksikan dalam kehidupan kita, berbagai perselisihan dan perpecahan dalam agama telah bermunculan. Berbagai sekte atau aliran menyimpang tumbuh subur, hingga banyak orang sulit mengenali mana kelompok yang selamat yang berjalan di atas jalan yang lurus.

Para ulama menerangkan bahwa 72 golongan menyimpang yang di sebut oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salamadalah golongan-golongan yang besar (induknya/ushul firoq). Dari setiap golongan itu muncul lagi berbagai aliran menyimpang, hingga jumlahnya menjadi sangat banyak mencapai ribuan sekte, semua sesat dan akan masuk neraka kecuali alfirqotun najiyyah, demikian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam mengabarkan keadaan mereka.

Berbagai kelompok menyimpang itu memiliki tingkat kesesatan yang berbeda-beda. Ada yang kesesatannya demikian nyata. Ada pula yang sangat samar. Semuanya mengklaim di atas kebenaran.

Keadaan ini semakin membuat sulit untuk bisa istiqomah dalam beragama. Orang yang berupaya memegangi agama dengan baik akan dituduh sebagai pengikut aliran sesat. Karena telah tertanam di benak banyak orang bahwa berbagai kelompok menyimpang memiliki ciri-ciri yang sama dengan orang yang berupaya istiqomah dengan agamanya. Ia menjadi asing di tengah masyarakat (kaum muslimin secara umum ) dan ia pun menjadi asing di tengah sekte atau aliran menyimpang yang mengelilinginya.

Semakin Banyak Fitnah

Tak di sangkal lagi bahwa fitnah yang terus bermunculan akan menjadi ancaman dan ujian bagi keistiqomahan seseorang. Ketika fitnah semakin banyak, maka istiqomahpun semakin sulit dan butuh perjuangan extra keras.

Imam muslim rohimahullah meriwayatkan di dalam kitab al-fitan wa Asyroth as-sa’ah, dari hudzaifah rodhiyallohu’anhu beliau mengatakan:

كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ كَمَا قَالَ قَالَ فَقُلْتُ أَنَا قَالَ إِنَّكَ لَجَرِيءٌ وَكَيْفَ قَالَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ فَقَالَ عُمَرُ لَيْسَ هَذَا أُرِيدُ إِنَّمَا أُرِيدُ الَّتِي تَمُوجُ كَمَوْجِ الْبَحْرِ قَالَ فَقُلْتُ مَا لَكَ وَلَهَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا قَالَ أَفَيُكْسَرُ الْبَابُ أَمْ يُفْتَحُ قَالَ قُلْتُ لَا بَلْ يُكْسَرُ قَالَ ذَلِكَ أَحْرَى أَنْ لَا يُغْلَقَ أَبَدًا قَالَ فَقُلْنَا لِحُذَيْفَةَ هَلْ كَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ مَنْ الْبَابُ قَالَ نَعَمْ كَمَا يَعْلَمُ أَنَّ دُونَ غَدٍ اللَّيْلَةَ إِنِّي حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ قَالَ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَ حُذَيْفَةَ مَنْ الْبَابُ فَقُلْنَا لِمَسْرُوقٍ سَلْهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ عُمَرُ

 

“Dahulu kita duduk bersama umar bin khothobrodiyallohu’anhu, lalu dia mengatakan, “siapakah di antara kalian yang masih hafal hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam yang mengisahkan tentang fitnah persis sebagaimana yang beliau katakan?’. Maka aku katakan, ‘Aku.’Beliau mengatakan, sesungguhnya kamu telah berani angkat bicara, maka bagaimanakah yang beliau katakan tentangnya?’. Aku katakan, Aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam besabda, ‘Fitnah yang timbul pada diri seseorang karena keluarganya, harta, jiwa, anak maupun tetangganya, maka itu semua akan bisa terhapus akibatnya dengan menjalankan puasa, sholat, sedekah, dan amar ma’ruf serta nahi mungkar’. Maka umar pun berkata, ‘Bukan itu yang aku maksudkan, yang aku inginkan adalah cerita tentang fitnah yang datangnya bergelombang bagaikan ombak lautan.’ Maka hudzaifah berkata; Aku katakan kepadanya, ‘ tidak ada urusan apa-apa antara anda dengannya wahai Amirul Mukminin. Sesungguhnya antara anda dengan fitnah itu terdapat pintu gerbang yang terkunci.’ Maka Umar bertanya, ‘Apakah pintu itu nanti akan terpecah atau dibuka?’ Hudzaifah berkata ‘Aku katakan.’ Tidak, akan tetapi pintu itu akan terpecah.’ Maka Umar berkata, ‘kalau demikian, maka tentunya pintu itu tidak akan bias terkunci untuk selamanya.’ Maka kami pun bertanya kepada hudzaifah, apakah Umar mengetahui siapakah yang di maksud dengan pintu itu?.’ Hudzaifah menjawab, ‘iya, sebagaimana dia tahu bahwa setelah malam ini akan datang esok hari. Sesungguhnya aku aku telah menceritakan kepadanya suatu hadits yang bukan termasuk perkara yang rumit.’ Perowi berkata, ‘Marilah kita tanyakan kepada hudzaifah siapakah yang di maksud dengan pintu itu.’ Maka kami pun bertanya kepada masruq.’ Tanyakanlah kepadanya. Maka dia pun bertanya kepada hudzaifah lalu dia menjawab, pintu itu adalah umar.’” (HR: Muslim)

Kita sekarang hidup di masa ketika pintu yang menjadi penghalang fitnah telah terpecah. Maka tidak diragukan lagi fitnah semakin deras bermunculan menerjang kita. Tidak ada suatu tempat pun kecuali di masuki oleh fitnah-fitnah.

Banyak hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam yang menyebutkan banyaknya fitnah yang akan muncul pada umat ini. Diantaranya hadits yang diriwayatkan dari usamah bin zaid rodhiyallohu’anhu:

Suatu ketika Rosululloh naik ke atap benteng yang ada di kota Madinah. Beliau kemudian berkata,

هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ

“Wahai para shohabat, apakah kalian bisa melihat Apa yang sekarang saya lihat? Sungguh sekarang aku sedang menyaksikan tempat turunnya fitnah di sela-sela rumah kalian seperti turunya hujan.” (HR: Muslim no. 5135)

Dalam hadits lain beliau berkata,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

 

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu.” (Abu Huroiroh HR. Muslim no. 208)

Hadits ini menunjukkan ketika islam pertama kali datang dibawa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam, mayoritas manusia ketika itu menganggapnya asing dan aneh, penolakan terjadi dimana-mana, bahkan dianggap sebagai ajaran yang harus di perangi. Banyak shohabat yang berupaya memegangi ajaran islam menjadi korban penganiayaan kaum musyrikin Quraisy, hingga ada di antara mereka yang meninggal.

Selanjutnya akan datang suatu masa, islam kembali menjadi agama yang asing di tengah umatnya. Ajaran-ajarannya dianggap aneh dan dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Orang-orang yang berupaya berpegang teguh dengan ajaran islam dianggap asing, aneh, dan diberi gelar-gelar yang buruk.

Akibat asingnya agama islam, kehidupan kaum muslimin pun menjadi sangat jauh dari nilai-nilai islam. Dalam semua sendi kehidupan, islam telah disingkirkan, diganti dengan prinsip-prinsip yang dianggap cocok dengan selera kebanyakan manusia.

Di masa generasi tabiin, para ulama sudah merasakan demikian asingnya Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam di tengah kaum muslimin ketika itu. Lebih asing lagi adalah orang-orang yang mengetahui sunnah tersebut, dan yang berupaya mengamalkannya berada pada puncak keterasingan. (Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah)

Di antara mereka ada yang berkata “Hendaklah kalian berwasiat yang baik kepada ahlus sunnah, karena mereka di masa ini telah menjadi orang-orang yang terasing.”

Ada lagi yang berkata , “Demi Alloh, seandainya aku melihat seorang ahlus sunnah, maka seakan-akan aku melihat seorang shohabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam.”

Hal ini karena orang-orang yang berpegang dengan ajarannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam adalah manusia langka dan jumlahnya sangat sedikit.

Di masa sekarang islam tidak hanya menjadi asing di tengah kaum muslimin, namun yang lebih parah adalah kaum muslimin juga phobi (takut/benci) terhadap agama mereka sendiri. Keadaan ini kian diperparah dengan begitu banyaknya aliran menyimpang yang merusak islam, hingga islam memiliki gambaran yang sangat buruk baik di kalangan umat islam sendiri maupun non islam.keadaan pun jadi terbolak-balik yang baik dianggap buruk, sementara yang menyimpang dianggap lurus, yang berupaya menjalankan islam dengan sungguh-sungguh dicap sebagai terrorist atau orang kolot, sementara yang mengikuti jalan-jalan menyimpang dianggap sebagai kemajuan dan kecerdasan.

Sungguh semua ini adalah keadaan yang serba sulit bagi orang-orang yang ingin istiqomah. Tantangannya demikian besar dan banyak, maka tidak heran, banyak yang tidak lolos “seleksi”, hingga tanpa disadari dirinya telah keluar dari jalur istiqomah. Dengan kata lain, banyak yang tanpa sadar telah menjadi orang yang menyimpang.

Contoh kasus dalam masalah ini sangat banyak yang tidak jarang kita saksikan sendiri. Misalnya ada teman yang dulunya memiliki semangat tinggi dalam berpegang teguh pada agama, namun kini telah hilang dari “peredaran”. Begitu pula ada ustadz yang menjadi penggerak dakwah salafiyyah di Indonesia, kini telah menjadi pengikut jalan kesesatan, demikian banyak yang telah berguguran dari jalan istiqomah, hingga bukan menjadi fenomena yang asing bagi kita.

Penyebab Penyimpangan

Ambisi Dunia

Ambisi dunia dan kedudukan adalah sebab yang sangat besar seseorang keluar dari jalan istiqomah, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam pernah menggambarkan betapa bahayanya ketika seorang manusia memiliki ambisi yang sangat besar pada dunia dan kedudukan. Beliau shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan dalam sekawanan kambing lebih merusak terhadapnya dari pada merusaknya ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (Shohih, HR. Ahmad, at-tirmidzi, an-Nasa’I, dan Ibnu Hibban)

Mencari pendapatan atau pekerjaan adalah hal yang dibolehkan dalam islam. Namun bila dilandasi oleh ambisi yang berlebihan, keadaannya berubah menjadi tercela. Banyak orang dibuat lupa daratan, hingga menghalalkan segala cara demi tercapainya ambisi dunia atau kedudukan. Orang-orang tenggelam dalam kesibukan mengejar dunia, bila diingatkan biasanya akan berdalih bahwa apa yang dilakukan adalah perkara yang mubah atau boleh-boleh saja. Apa yang dicari adalah sesuatu yang halal dan tidak dilarang dalam islam.

Memang benar demikian. Namun bila aktivitas mengejar dunia mulai disusupi ambisi, sedikit demi sedikit akan merubah keadaan agama seseorang. Tanpa disadari, sedikit demi sedikit ia akan menghalalkan apa yang diharomkan oleh agama. Hingga tanpa terasa ia telah keluar dari jalan yang lurus demikian jauh, namun merasa tetap di atas kebenaran.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Tiap-tiap umat memiliki fitnah, dan fitnah yang menimpa umatku adalah harta.” (HR. Bukhori)

Rosululloh juga telah mengingatkan umatnya betapa bahayanya fitnah harta bagi agama seseorang. Dalam sebuah riwayat dikisahkan,

عَنْ عَمْرو بْنِ عَوْفٍ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ إِلَى الْبَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا، فَقَدِمَ بِمَالٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ، فَسَمِعَتِ الأَنْصَارُ بِقُدُوْمِ أَبِي عُبَيْدَةَ، فَوَافَوْا صَلاَةَ الْفَجْرِ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ، اِنْصَرَفَ، فَتَعَرَّضُوْا لَهُ، فَتَبَسَّمَ رَسُوْلُ اللهِ حِيْنَ رَآهُمْ، ثُمَّ قَالَ: أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدِمَ بِشَيْءٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ فَقَالُوْا: أَجَل يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَقَال َ:أَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوْا مَا يَسُرُّكُمْ، فَوَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوْهَا كَمَا تَنَافَسُوْهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

 

Dari ‘Amr bin Auf al-anshori rodhiyallohu ‘anhu ia berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam mengutus abu ubaidah ibnul jarroh rodhiyallohu ‘anhu ke negeri Bahroin untuk mengambil jizyah (upeti) dan para shohabat Anshor mengetahui hal ini. Usai sholat subuh bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam, para shohabat saling menjulurkan lehernya agar terlihat oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam (para shohabat berharap agar dirinya diketahui kehadirannya oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam dan nantinya mendapat bagian dari harta tersebut).

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam pun tersenyum dan berkata, “Apakah telah sampai kepada kalian kabar tentang kedatangan Abu Ubaidah ibnul Jarroh yang membawa harta sangat banyak?” para shohabat menjawab, “Betul wahai Rosululloh.” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam berkata “silahkan kalian bergembira dan berangan-angan dengan sesuatu yang membahagiakan. Sungguh demi Alloh, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan terjadi pada kalian. Namun yang aku khawatirkan adalah dilimpahkannya dunia bagi kalian, sebagaimana dunia telah dilimpahkan untuk umat-umat sebelum kalian, sehingga kalian akan saling bersaing dalam memperebutkan dunia sebagaimana umat-umat sebelum kalian telah saling bersaing, dan akhirnya dunia akan membinasakan kalian sebagaimana membinasakan umat-umat sebelum kalian.” (HR. Bukhori, Muslim)

Dalam hadits ini Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam mengabarkan bahwa fitnah dunia adalah fitnah yang sangat besar. Saking dahsyatnya fitnah ini, tak sedikit manusia yang mau menjual agamanya demi sesuatu yang sangat sedikit dari dunia.

Kita tentu pernah mendengar kasus-kasus kristenisasi, yaitu adanya sebagian dari kaum muslimin yang mau menjual agamanya demi mendapat sebuah paket sembako, demi mendapat pengobatan gratis, atau yang lainnya yang nilainya sangat kecil dibanding dengan agamanya. Disebabkan kejahilan dan ambisi pada dunia, mereka rela menggadaikan agamanya.

Pada tingkat yang lebih tinggi, tak sedikit orang-orang yang telah paham tentang agamanya juga rela menjual prinsip-prinsip agamanya demi harta atau kedudukan. Mereka menutup mata terhadap berbagai kesalahan dan penyimpangan yang ada pada pihak yang memberi harta, demi lancarnya bantuan yang ingin didapatkan.

Ketika harta atau kedudukan sudah berhasil didapat dan sudah dirasakan kelezatannya, maka perlahan tapi pasti agamanya pun akan berubah. Prinsip-prinsip yang dipegangi satu per satu ditinggalkan, hingga tak tersisa satu pun. Keadaannya kini tak ubahnya sama dengan lembaga atau yayasan hizbiyyah yang memberi harta atau jabatan kepadanya.

Orang menyimpang dari jalan ahlus sunnah kemudian menjadi pengikut hizbiyyah disebabkan dunia yang ingin diraihnya, bukan hal yang aneh lagi bagi kita, teramat banyak hal ini terjadi disekitar kita. Bahkan mungkin terjadi pada orang-orang yang dekat dengan kita, entah itu saudara, teman, bahkan ustadz kita! Kita mohon keselamatan dan perlindungan pada Alloh ta’ala dari yang demikian.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda,

بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحْ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegerahlah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan sore hari dalam keadaan kafir, Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia.” (HR.Muslim no.118)

Fitnah dunia bisa menimpa siapa saja. Tidak hanya orang yang jauh dari ilmu agama, namun juga orang yang dianggap berilmu seperti da’I atau ustadz, bahkan ulama.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ١٧٥ وَلَوۡ شِئۡنَالَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ١٧٦

 

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaithon (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (al-A’rof: 175-176)

Imam ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, yang dimaksud dengan akhlada ilal ardhi adalah perasaan sangat cinta pada dunia. (al-Fawaid)

Para ulama menjelaskan bahwa diantara faidah dari ayat ini adalah penjelasan tentang tahapan orang yang menyimpang, yaitu dimulai dari munculnya rasa cinta pada dunia yang menggebu-gebu dan kemudian diikuti dengan mengikuti hawa. Ketika seorang yang berilmu telah dirasuki syahwat atau ambisi pada dunia, maka ia akan mencari-cari syubhat untuk melandasi perbuatannya. Berbagai argument dimunculkan, meskipun menyelisihi al-haq.

Alloh sunhanahu wa ta’ala menggambarkan orang seperti ini bagaikan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya. Ia akan bersikap demikian hingga ambisinya tercapai. Diberi nasihat atau tidak, ia tetap menjalankan berbagai usahanya untuk meraih ambisi-ambisinya.

Bahkan terkadang ia menantang orang yang memberi nasihat padanya. Misalnya ia berkata, “saya tidak peduli dengan omongan kalian.” Atau “Saya siap ditinggal oleh kalian.” Demikianlah keadaan orang-orang yang telah dibutakan oleh dunia, lebih memilih membuang nasihat dari pada menerimanya.

Imam ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “semua orang yang berilmu namun lebih mementingkan dunia, maka pasti dia akan berbicara atas nama Alloh ta’ala tanpa dilandasi al-haq. Hal ini karena semua hukum-hukum Alloh ta’ala selalu menyelisihi kepentingan kebanyakan manusia.” (al-Fawaid)

Mengikuti Fatwa Ulama yang Ganjil (Syadz)

Termasuk dari ciri kelompok menyimpang adalah suka mengikuti fatwa-fatwa ganjil dari para ulama. Tidak hanya itu, mereka bahkan sering menggiring seorang ulama agar berfatwa sesuai dengan keinginannya, yang fatwa tersebut dijadikan dalil untuk melegalkan penyimpangannya.

Maka ketika seorang suka mengikuti fatwa ulama yang ganjil, menjadi tanda bahwa orang tersebut sedang mengikuti jalan menyimpang yang akan menjatuhkan dia dalam kesesatan.

Al-imam abu ishaq asy-syathibi rohimahulloh telah mengingatkan kita dalam kitab beliau al-I’tishom ketika menjelaskan ciri-ciri orang yang menyimpang, beliau berkata bahwa diantara ciri ashabul ahwa wal bida’ adalah mereka suka mencari-cari dan memegangi fatwa ulama ahlussunnah yang ganjil untuk menjadi dalil penyimpangan mereka.

Al-Imam Abdulloh bin mubarok rohimahulloh berkata, “Yang namanya ilmu adalah Sesutu yang datangnya dari sini, dari sini, dan dari sini (yakni memiliki banyak jalur/sesuatu yang masyhur di kalangan ulama).”

Al-Imam adz-Dzahabi rohimahulloh berkata, “Yang dianggap mu’tabar adalah penjelasan yang datang dari para aimmah, bukan fatwa yang ganjil dari seorang ulama.”

Orang yang suka mengikuti fatwa yang ganjil dari para ulama, lambat laun ia akan terjatuh pada kesesatan.

Abu yusuf al-qodhi (murid imam abu hanifah rohimahulloh) berkata, “Barang siapa yang suka mencari fatwa yang syadz (ganjil) dan ghorib (asing) maka sungguh ia telah jatuh dalam kedustaan.”

Ada lagi yang berkata, “barang siapa yang suka mencari fatwa-fatwa ganjil dan ketergelinciran ulama, maka sungguh ia telah terjatuh dalam kezindiqan.”

Orang yang suka dengan fatwa yang ganjil biasanya memang pada dirinya sudah ada kecenderungan pada penyimpangan. Ia akan berbahaya sekali bila mendapati fatwa ulama yang bisa dijadikan alasan untuk mendukung perbuatannya, meskipun fatwa tersebut didapat dari pertanyaan yang direkayasa atau fatwa tersebut sifatnya global.

Misalnya ketika ada ulama berfatwa membolehkan seseorang untuk mendapatkan ijazah (syahadah) dalam menuntut ilmu agama (seperti di universitas Islam madina-ed), ada pihak-pihak yang menjadikan fatwa ini sebagai dalil untuk kuliah di IAIN (UIN). Padahal kita semua tahu bagaimana keadaan IAIN, sebuah lembaga pendidikan tinggi agama islam yang banyak mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ahlus sunnah wal jamaah. Ini bukan sekedar cerita, namun fakta yang benar-benar ada dan telah terjadi.

Hanya untuk meraih sebuah titel seseorang rela menjadikan sekian banyak prinsip agama sebagai “tumbalnya.” Bila ini dilakukan oleh orang yang belum mengenal prinsip-prinsip agama, tentu kita akan memakluminya. Namun bagaimana bila ternyata pelakunya adalah orang yang telah belajar agama, bahkan menyatakan dirinya sebagai da’I ahlus sunnah? Allohul musta’an.

Contoh lain misalnya adalah, ada ulama yang berfatwa bolehnya menyiarkan secara langsung (LIVE) siaran ta’lim melalui TV atau lainnya. Fatwa ini oleh sebagian orang dijadikan alasan untuk melakukan siaran dakwah melalui TV, baik siaran itu langsung atau dalam bentuk rekaman maka bermunculanlah sejumlah TV dakwah di negeri ini, lengkap dengan para dainya yang siap mengisi siaran ta’lim untuk disaksikan oleh kaum muslimin dan muslimah!

Padahal banyak ulama berfatwa bahwa ta’lim cukup disebarkan dengan suara,tanpa perlu dengan gambar. Kecuali ada kebutuhan yang sangat mendesak, yang tidak akan tercapai tujuan kecuali kalau disetai penayangan gambar (video).

Ada lagi kasus yang bisa jadi mayoritas dari kita sudah mengetahuinya, yaitu ketika banyak ulama ahlus sunnah memperingatkan umat akan bahanya sebuah yayasan hizbiyyah bernama Ihyaut Turots dari Kuwait, maka orang-orang yang di dalam hatinya sudah memiliki kecondongan pada penyimpangan ramai-ramai membantah, “Siapa bilang ini yayasan hizbiyyah? Siapa bilang ini yayasan menyimpang? Buktinya masih ada ulama yang membolehkan untuk bermuamalah dengan mereka.”

Lihatlah, para ulama telah memberikan bimbingan agar umat selamat, di lain pihak justru muncul orang-orang yang berupaya mencari fatwa ulama yang ganjil dalam masalah ini, yang menyelisihi fatwa kebanyakan ulama. Dengan segala cara mereka mencari jalan untuk mementahkan fatwa ulama yang mu’tabar, dengan satu tujuan agar mereka tetap bisa bermuamalah dengan yayasan hizbiyyah tersebut karena bisa mendapatkan banyak fasilitas terutama dana yang besar.

Tak lupa mereka menyebarkan berbagai syubhat kepada umat. Diantranya, kalau dana mereka bukan kita yang memanfaatkan, nantiakan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memusuhi dakwah ahlus sunnah. Ada lagi ucapan, permasalahan Ihyaut turots tidak akan ditanya di alam kubur. Bahkan ada pernyataan bahwa memanfaatkan dana Ihyaut Turots untuk dakwah adalah perbuatan yang cerdas!

Sungguh benar apa yang difirmankan Alloh ta’ala dalam surat al-A’rof di atas. Ketika hati seseorang sudah dipenuhi ambisi dunia atau kedudukannya, yang terjadi berikutnya adalah ia akan berupaya mencari dalil untuk melegalkan perbuatan-perbuatannya. Meski dalil tersebut hanya sebuah syubhat yang sangat lemah untuk dibantah, dia tetap akan mempertahankannya.

Dalam menyikapi sebuah fatwa, yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim adalah tidak serta-merta menerapkan suatu fatwa dari seorang ulama. Ia kaji fatwa tersebut, misalnya dengan membandingkan dengan fatwa keumuman para ulama lainnya dalam suatu masalah.

Begitu pula hendaknya kita memilih fatwa yang masyhur (mu’tabar), yang sesuai dengan dalil dan mayoritas ulama berada diatasnya. Sedangkan untuk fatwa yang ganjil yang datang dari segelintir ulama, maka kita harus meminta bimbingan ulama lainnya bagaimana menyikapi fatwa tersebut dan bagaimana menyikapi fatwa tersebut dan bagaimana pula menerapkannya. Jangan sampai kita memilih fatwa karena didasari oleh hawa nafsu. (wallohu a’lam)

Ustadz Muhammad Afifuddin

(dikutip dari Majalah Fawa’id Edisi 9)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


CAPTCHA Image
Reload Image